Kronologi Tragedi Trisakti 19 Mei 1998

Kronologi Tragedi Trisakti 19 Mei 1998

Kronologi Tragedi Trisakti 19 Mei 1998

Kronologi Tragedi Trisakti 19 Mei 1998 – Pada Mei 1998 terjadi demonstrasi besar-besaran yang merenggut nyawa mahasiswa. Peristiwa bersejarah itu dikenal dengan nama Tragedi Trisakti. Ekonomi Indonesia mulai goyah pada awal 1998 yang terpengaruh oleh krises finansial Asia (krisis moeter) sepanjang 1997-1999. Mahasiswa pun melakukan aksi demonstrasi besar-besaran ke Geding Nusantara.

Para mahasiswa memenuhi halaman hingga kubah gedung DPR/MPR. Aksi ini menjadi demonstrasi terbesar yang pernah dilakukan mahasiswa selama 30 tahun terakhir pada gedung DPR/MPR. Demo mahasiswa ini adalah rangkaian dari unjuk rasa besar dengan tuntutan reformasi, meminta Presiden Soeharto untuk mundur dari jabatannyam dan melaksanakan sidang istimewa MPR.

Para mahasiswa ini melakukan aksi damai dari kampus Trisakti menuju Gedung Nusantara pada pukul 12:30. Nauan aksi mereka terhambat oleh blokade dari Polri dan militer datang kemudian. Beberapa mahasiswa mencoba bernegosiasi dengan pihak Polri.

Akhisrnya pada pukul 17:15 para mahasiswa bergerak mundur diikuti oleh bergerak majunya aparat keamanan. Aparat keamanan pun mulai menembakan peluru ke arah mahasiswa. Menyebabkan para mahasiswa panik dan tercerai berai, sebagian besar berlindung di Universitas Trisakti. Namun aparat keamanan terus melakukan penembakan. Korban pun berjatuham, dan dilarikan ke Rumah Sakit Sumber Waras.

Pada pukul 20.00 empat orang mahasiswa tewas tertembak dan satu orang dalam keadaan kritis. Meskipun pihak aparat keamanan membantah telah menggunakan peluru tajam, hasil otopsi menunjukkan kematian disebabkan peluru tajam. Hasil sementara diprediksi peluru tersebut hasil pantulan dari tanah peluru tajam untuk tembakan peringatan.

Kronologis dan Rentang Waktu Tragedi Trisakti

Pukul 10.30

Mimbar bebas digelar pada lingkungan kampus Trisakti sebagai bentuk sikap terbuka terhadap persoalan kebangsaan. Mimbar bebas ini diapresiasi oleh segenap dosen, karyawan, dan mahasiswa Trisakti.

Pukul 12.20

Suasana mimbar bebas mulai memanas, karena kehadiran aparat keamanan yang tepat berada pada area jembatan layang bersenjata lengkap.

Pukul 12.30

Massa aksi kemudian mempersiapkan aksi demonstrasi lanjutannya dengan tujuan gedung MPR/DPR dengan long march melalui jalan S. Parman.

Pukul 12.50

Massa aksi yang tergabung dalam kesatuan aksi damai Trisakti berhadapan dengan barikade aparat keamanan yang berjaga pada sekitar bekas kantor Balai Kota Jakarta Barat.

Pukul 13.30

Negosiasi untuk melanjutkan aksi damai tidak mendapatkan respon positif dari aparat keamanan yang bersenjata lengkap. Aksi damai pun berlanjut dengan mimbar bebas pada area Balai Kota dengan cara duduk bersama. Sedangkan para mahasiswi membagikan bunga mawar kepada barisan aparat yang berjaga.

Pukul 14.00

Hujan yang turun, tidak menghentikan upaya mahasiswa Trisakti untuk terus bernegosiasi dengan aparat yang berjaga. Begitu pula dengan massa aksi, yang terus melakukan orasi-orasinya.

Pukul 16.45

Usai dibujuk oleh Dekan FE dan Dekan FH, massa akhirnya bersedia bergerak mundur dengan agenda aksi selanjutnya. Hingga terjadi provokasi dari oknum mahasiswa (mengaku mahasiswa) pada barisan aparat dan mahasiswa yang tengah melakukan undur diri.

Pukul 17.00

Suasana mulai memanas akibat serangkaian insiden antar massa aksi dengan aparat keamanan. Yang berawal dari umpatan dari oknum-oknum aparat yang memprovokasi mahasiswa yang akhirnya memilih mundur ke kampus.

Pukul 17.05

Pada barisan depan telah terjadi kericuhan antara mahasiswa dengan aparat. Dengan suara tembakan serta gas air mata ke area mahasiswa yang tengah undur diri. Seketika suasana semakin tidak terkendali. Para demonstran memilih untuk segera undur diri ke kampus Trisakti.

Pukul 17.30 – 19.00

Tembakan ke area kampus semakin gencar oleh aparat. Yang mana kemudian empat mahasiswa gugur terkena tembakan. Sedangkan mahasiswa lainnya bergerak menyebar ke area kampus untuk menghindari kejaran aparat dengan cara bersembunyi.

Pukul 19.00 – 20.00

Rekan mahasiswa berlindung di dalam ruangan RS dari penembak. Setelah keadaan sedikit aman, mahasiswa mulai berani untuk keluar ruangan. Lalu terjadi dialog negosiasi antara Dekan FE dengan Kol. Pol. Arthur Damanik,

Pukul 20.00 – 01.30

Para mahasiswa yang berada di RS berangsur pulang ke rumah masing-masing dengan ketakuan dan trauma karena melihat penembakan ke mahasiswa. Jumpa pers Pangdam Jaya Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoredin, Kapolda Mayjen (Pol) Hamami Nata, Rektor Trisakti Prof. Dr. R. Moedanton Moertedjo, dan dua anggota Komnas HAM AA Baramuli dan Bambang W Soeharto.

Bava juga informasi dan artikel menarik lainnya di : oddstruments