Pandangan Terhadap Seni Tatto

Pandangan Terhadap Seni Tatto - Pada mata orang awam khususnya masyarakat Indonesia, orang bertato sering diindentikan sebagai perilau tindak kriminal. Dari tahun ke tahun tetap saja ada orang yang beranggapan seperti itu.

Pandangan Terhadap Seni Tatto

Pandangan Terhadap Seni Tatto – Pada mata orang awam khususnya masyarakat Indonesia, orang bertato sering diindentikan sebagai perilau tindak kriminal. Dari tahun ke tahun tetap saja ada orang yang beranggapan seperti itu.Terlebih tatto sering dan bahkan sangat sering sehingga terkadang menjadi pendapat tersendiri bagi masyarakat mengaitkan tatto dengan bentuk bentuk tindak krimina atau berandalan. Tidak salah, memang banyak sekali preman, pencuri dan gangster yang menggunakan tatto. Tetapi tidak sepenuhnya benar. Bentuk mungkin menjadikan alasan kriminalitas yang menghubungkan dengan tatto.

Sepertinya terlalu sempit jika melihat tatto dari satu sisi kriminalitas, padahal orang jahat juga banyak yang tidak memiliki tatto. Menerima keberadaannya pun cukup sulit meskipun juga ada yang beranggapan bahwa tatto adalah sebuah seni ekspresi. Dampak setelah memiliki tatto kepada masyarakat umum karena tatto merupakan sebuah karya seni hias tubuh yang mengandung kontroversi bagi masyarakat. Persepsi masyarakat yang seperti ini yang membuat orang bertatto akhirnya lebih menutup diri dan merasa telah mendapatkan diskriminasi oleh lingkungan sosial.

Baca Juga Info Menarik Lainnya : oddstruments

Stigma Tatto

Jika sejumlah orang nyaman memperlihatkan tatto mereka, di Inggris, Amerika dan beberapa negara lainnya, beberapa perusahaan masih melarang tatto untuk kalangan pegawainya. Anda mungkin berpikir bahwa pada negara-negara dengan persentase penduduk bertato yang tinggi, akan ada pandangan yang lebih santai tentang seni tubuh. Namun kenyataannya tidak selalu seperti itu.

Anda mungkin berpikir bahwa pada negara-negara dengan persentase penduduk bertato yang tinggi, akan ada pandangan yang lebih santai tentang seni tubuh. Namun kenyataannya tidak selalu seperti itu. Penelitian yang melakukan untuk Universitas Iowa Utara oleh Kristin Broussard dan Helen Harton mengungkapkan bahwa bahkan pada Amerika, mengenakan tato sebagai pelapis lengan akan menerima stigma sosial. Dalam kajian mereka pada tahun 2017, Broussard dan Harton melibatkan dua kelompok. Grup pertama terdiri dari pelajar berusia rata-rata 19 tahun, sedangkan kelompok lain adalah penduduk AS dengan median umur 42 tahun. Dua grup responden menilai orang-orang bertato dalam foto tersebut. Memberikan penilaian dalam 13 karakter dan terhadap sifat personal seperti kejujuran, kesuksesan, kecerdasan, dan seberapa besar mereka dapat dipercaya. Sebagian besar pada kelompok pelajar berpendapat bahwa perempuan bertato lebih kuat dan mandiri. Namun secara umum dua kelompok lebih senang dengan foto orang-orang tak bertato. Akan tetapi Broussard menyebut walau seseorang memiliki tato.

Skala Penerimaan Tatto

Jadi, bahkan jika anda seorang CEO yang memiliki tatto, anda mungkin tidak akan mempekerjakan seseorang yang memiliki tatto pada anggota tubuhnya. Menurut sebagian orang yang sudah bekerja juga boleh bertatto, tapi itu seharusnya tidak menjadi gangguan. Dalam konteks tatto yang paling bisa diterima, jika anda bisa menyembunyikan tatto tersebut. Seperti menaruh tatto pada bagian yang sering tertutup oleh pakaian seperti pada dada, perut atau punggung. Terakhir ada konteks yang tidak dapat diterima, dan itu biasanya memiliki tatto yang terletak pada area luar (terlihat) seperti langan, kaki atau wajah anda.

Pada beberapa negara, pimpinan yang bertato sama sekali tidak masuk akal. Jepang memiliki hubungan tidak mengenakan dengan seni rajah tubuh ini.