Sejarah dan Tahapan Candi Borobudur

Sejarah dan Tahapan Candi Borobudur

Sejarah dan Tahapan Candi Borobudur – Kemegahan arsitektur Candi Borobudur tak lepas dari sejarah panjang perkembangan agama Buddha di Indonesia. Kemegahan candi borobudur terkenal hingga ke kancah internasional dan terkenal juga sebagai monumen terbesar dunia.

Baca juga informasi dan artikel menarik lainnya di : oddstruments

Berlokasi Magelang, Jawa Tengah. Candi Borobudur mengalami masa pemugaran cukup lama untuk mengembalikan keindahannya. Selain itu candi borobudur juga masuk daftar tujuh keajaiban dunia. Candi umat Buddha ini dikelilingi taman luas dan berada pada tengah gunung-gunung yang menjulang tinggi.

Candi Borobudur atau kadang masyarakat menyebutnya “Barabudur” pada masa Dinasti Syailendra (sekitar 650-1025 Masehi). Umat Buddha pada daerah Jawa melakukan ziarah dan ritual-ritual lain dalam Candi Borobudur sampai sekitar abad ke 14 dan abad ke 13 Masehi sampai candi ini terlantar akibat banyaknya orang Jawa yang berganti agama menjadi Islam.

Penemuannya kembali pada tahun 1814. sejak saat itu Borobudur sudah menjadi subyek penelitian yang sangat luas dan subyek investigasi arkeologis oleh orang-orang Belanda dan Jawa. UNESCO menetapkan Borobudur sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 1991 yang sebelumnya mendapat restorasi pada tahun 1970-an. Dan candi yang ikonik ini terus memainkan peran penting dalam membentuk estetika, arsitektur dan identitas budaya Indonesia.

Sejarah

Sejarah Candi Borobudur merupakan peninggalan dinasti Syailendra. Pendiri candi ini oleh penganut agama Buddha Mahayana. Bangunan ini dibentuk sekitar abad ke-8 pada masa pemerintahan wangsa Syailendra.
Tujuan membangun Candi Borobudur yakni untuk memuliakan raja-raja Syailendra (775-850 M). Yang telah bersatu kembali dengan dewa yang menjadi asal beliau. Berdasarkan sejarah yang ada, pembuat candi Borobudur diketahui bernama Gunadarma. Candi juga ini dibangun dalam 5 tahapan, berikut penjelasannya :

Tahap Pertama (780 Masehi)

Pembangunan awal dilakukan di atas bukit. Meratakan bagian bukit dan memperluas pelataran. Tidak semua bahan pembuat candi dari batu andesit. Proses pembangunan bukit memakai tanah yang dipadatkan dan ditutup struktur batu.
Struktur batu ini menyerupai cangkang dan membungkus bukit tanah. Sementara itu menutup sisa bagian bukit struktur batu lapis demi lapis. Awal pembangunan candi tersusun bertingkat seperti piramida berundak.

Tahap Kedua dan Ketiga (792 Masehi)

Tahap kedua, terdapat penambahan dua undakan berbentuk persegi. Bagian pagar langkan dan satu undak melingkar pada atasnya. Dan bagian undak memiliki stupa tunggal yang besar. Bagian ketiga terjadi perubahan rancangan bangunan.
Sedangkan bagian undak atas lingkaran dengan stupa tunggal induk terbongkar. Mengganti stupa dengan tiga undak lingkaran, sementara stupa-stupa kecil berbaris melingkar pada pelataran undak-undak. Stupa besar berada pada bagian tengah.

Tahap Keempat (824 Masehi)

Bangunan candi mengalami perubahan kecil, seperti penambahan pagar langkan terluar, penyempurnaan relief, perubahan tangga, pelebaran ujung kaki, dan pelengkung atas gawang pintu. Kemudian, Borobudur mengalami perubahan terakhir pada undakan melingkar dan melakukan pelebaran ukuran pondasi.

Tahap Kelima (1811)

Kemegahan Borobudur sempat sirna selama berabad-abad karena terkubur pada bawah lapisan tanah dan debu vulkanik. Kembalinya popularitas Candi Borobudur terjadi pada masa Thomas Stamford Raffles saat menjabat sebagai Gubernur Jenderal pulau Jawa pada 1811.
Tersiarnya kabar penemuan kembali Borobudur juga menjadi malapetaka terjadinya kerusakan pada banyak tempat. Sampai pada akhir 1960-an pemerintah Indonesia meminta bantuan kepada UNESCO untuk mengatasi permasalahan pada Candi Borobudur.