Sejarah Kota Bekasi

Sejarah Kota Bekasi

Sejarah Kota Bekasi

Kota Bekasi merupakan daerah yang masuk dalam wilayah Provinsi Jawa Barat. Mempelajari sejarah Kota Bekasi bisa mulai dari masa penjajahan hingga ditetapkan sebagai kota Administratif. Pada saat itu, Kota Administratif Bekasi hanya terdiri dari empat kecamatan, 18 kelurahan dan 8 desa. Lalu dinaikan menjadi Kotamadya pada 1996 yang hingga sekarang terkenal dengan sebutan Kota Bekasi.

Bava juga informasi dan artikel menarik lainnya di : oddstruments

Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri adalah sebutan Bekasi tempo dulu sebagai ibukota Kerjaan Tarumanegara (358-669). Luas kerajaan itu mencakup wilayah Bekasi, Sunda Kelapa, Depok, Cibinong, Bogor gingga ke wilayah Sungai Cimanuk Indramayu Jawa Barat. Menurut para ahli sejarah dan fisiologim letak Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri sebagai Ibukota Tarumanegara adalah wilayah Bekasi sekarang.

Dayeuh Sundasembawa inilah daerah asal Maharaja Tarusbawa (669-723 Masehi) pendiri Kerajaan Sunda dan seterusnya menurunkan raja-raja sampai generasi ke 40 yaitu Ratu Ragumulya (1567-1579 Masehi) Raja Sunda Kelapa (Kerajaan Padjajaran) yang terakhir. Wilayah Bekasi ercatat sebagai daerah yang banyak memberi informasi tentang keberadaan Tatar Sunda pada Keempat prasasti ini merupakan keputusan (piteket) dari Sri Baguga Maharaja (Prabu Siliwangi, Jayadewa 1482-1521 Masehi) yang tertulis dalam lima lembar lembeng tembaga.

Sejarah Bekasi

Kota Bekasi ternyata mempunyai sejarah yang sangat panjang dan penuh dinamika. Ini dapat dibuktikan perkembangannya dari jaman ke jaman, sejak jaman Hindia Belanda, pendudukan militer Jepang, perang kemerdekaan dan Jaman Republik Indonesia. Awalnya Kota Bekasi merupakan sebuah nama kecamatan yang secara administrasi masuk dalam Kabupaten Bekasi. Seiring berkembangnya waktu, status kecamatan Bekasi berubah menjadi Kota Administratif pada 1982. Perkembangan Kota Bekasi cukup pesat, kini kota itu menjadi kawasan padat penduduk dan menjadi wilayah industri. Bekasi merupakan kota keempat terbesar Indonesia.

Berdasarkan catatan sejarah dari berbagai sumber, kata Bekasi berasal dari kata Bagasasi yang mempunyai makna sama dengan candrabaga, yakni nama sungai yang melalui Bekasi. Hal itu tertulis dalam Prasasti Tugu era Kerajaan Tarumanegara. Pada masa lalu, Bekasi disebut dengan Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri. Daerah ini dulu sebagai Ibukota Kerajaan Tarumanegara (358-669), yang wilayahnya mencakup hingga Bogor, Depok, Sunda Kelapa, Cibinong dan sebagian Indramayu.

Setelah Indonesia Merdeka

Setelah Indonesia merdeka, struktur pemerintah kembali berubah. Ibu kota Kabupaten Jatinegara berubah-ubah, mulai dari Tambun, Cikarang hingga ke Bojong. Namun tidak lama setelah Belanda tertunduk, terjadi penghapusan Kabupaten Jatinegara. Kedudukan daerah kembali menjadi kawedanan atau distrik. Distrik Bekasi masuk wilayah Batavia En Omelanden.

Pada 17 Februari 1950, terdapat aksi unjuk rasa oleh 40.000 warga Bekasi di Alun-Alun Bekasi. Unjuk rasa itu menuntut agar Kabupaten Jatinegara diubah menjadi Kabupaten Bekasi. Kemudian pada UU No.14/1950 terbentuklah Kabupaten Bekasi yang terdiri dari 4 distrik, 13 kecamatan dan 95 desa.

Geografi

Kota Bekasi terletak pada ketinggian 19 mdpl, namun ada daerah yang ketinggianya antara 25-100 mdpl. Dari luas wilayahnya, 50 persen menjadi kawasan perkotaan yang terdiri dari 90 persen menjadi kawasan perumahan, 3 persen sebagai perdagangan, 4 persen menjadi kawasan indsutri dan sisanya sebagai bangunan lain.

Si sebagian wilayahnya yang rendah menyebabkan sebagian daerah Bekasi terdapat genangan air saat musim penghujan. Adapun iklim Kota Bekasi termasuk iklim muson tropis, tingkat kelembabannya kurang lebih 78 persen.